Minggu, 26 Juli 2020

Pembawa Kebahagiaan Pembangun Peradaban

*Pembawa Kebahagiaan, Pembangun Keadaban*

Oleh: Saat Suharto Amjad

Namanya telah lebih dahulu saya kenal dari pujian orang tua, guru, senior di Islamic microfinance Ayahanda Prof Amin Azis yang memuji seorang anak muda yang memiliki tekad luar biasa membangun desa kelahirannya melalui gerakan pemberdayaan, gerakan pembebasan Baitul Maal wa at-Tamwil namanya disebut dengan semangat oleh beliau dan nama itu saya catat baik-baik, Adib Zuhairi. Pasti pemuda ini adalah pemuda hebat karena dipuji sedemikian rupa oleh orang hebat. 

Sosok Adib memiliki peran sentral di Perhimpunan BMT Indonesia, suatu perkumpulan BMT yang bersama sama dengan puluhan BMT - BMT utama di Indonesia kami dirikan di tahun 2005. Sehingga ketika mendengar beliau telah lebih dahulu menghadap Allah, selalu ada rasa belum siap, belum siap rasanya kehilangan teman berjuang, mujahid dakwah dibilang ekonomi syariah. Beliau lah yang ikut meletakkan dasar dasar gerakan BMT di Indonesia, kontribusi beliau makin sentral ketika menjadi ketua Koordinator Wilayah PBMT Jawa Tengah dimana dibawah beliau koordinasi dengan BMT BMT utama di Indonesia menjadi begitu mengalir dan soliditas menjelma menjadi modal sosial. Apalagi kemudian beliau menjadi direktur PBMT Travel yang bukan hanya sukses memberangkatkan 500-600 jamaah umroh setiap tahunnya tapi sukses membangun alumni umroh sebagai kumpulannya orang orang sholeh, kumpulannya orang orang yang peduli kepada masyarakat dan dhuafa, kumpulan nya orang orang yang menguatkan BMT baik dari sisi sosial (Maal ) maupun dari sisi bisnis (Tamwil). 

Rasa belum siap itu juga karena kami belum sempat mendesiminasikan pelayanan Islamic microfinance pada kelompok usaha Industri rumahan dimana BMT Tumang memiliki keunggulan khusus untuk itu. 

Kampung Tumang sejak sebelum kemerdekaan negeri ini telah dikenal sebagai kampung para perajin besi, para empu yang membuat mata bajak, bawak dan landep (mata cangkul), arit, pisau yang relatif sederhana hingga dandang dan kenceng yang membutuhkan kerjasama team yang kompak telah hidup dan menghidupi kampung di lereng merapi merbabu itu hingga hidup ujar ujaran yang menggugah kerja khas Tumang "ono dino - ono upo, ora nuthuk ora muluk", "setiap hari telah dijamin rejeki tapi mesti kamu usahakan dengan penuh semangat karena kalau kamu tidak menggembleng/menempa besi maka kamu tidak akan dapat makan nasi ". BMT kita ini hidup luluh menjadi bagian tidak terpisahkan dari kerajinan yang menjadi industri ini, lampu lampu kuningan yang menghias bandara atau kubah kubah tembaga yang memanggil manggil orang untuk datang ke masjid - masjid jamik datang dari kampung ini, atau hiasan meja yang halus, plakat, piala yang eksotis lahir pula dari kampung ini, bahkan kaligrafi tempa yang indah dan dalam makna juga dibuat dengan ketukan yang menghamba kepada Tuhan dari artisan artisan kampung Tumang. BMT telah menjadi enabler suatu alat pengungkit yang mampu menjadikan kampung itu melalui transformasi dengan berani, dengan marwah dan jatidiri kampungnya para empu (galihnya kayu, intinya kayu).


Tidak banyak lembaga keuangan yang mampu melayani klaster industri skala kecil dan menengah, dan BMT Tumang adalah salah satu yang terdepan. 
Relasi kampung dan BMT yang padu padan bisa dilihat dari keterlibatan BMT pada workshop yang memanjang semua hasil seni, kerajinan dan industri yang pada awalnya dikelola oleh BMT dan kini alhamdulillah telah diserahkan kepada masyarakat secara mandiri dan secara nyata telah makin memajukan bisnis masyarakat yang juga adalah anggota BMT. Bukan hanya dari sisi bisnis, keberhasilan BMT Tumang dari sisi pemberdayaan juga sangat terlihat, tanyakanlah hal ini pada penduduk desa Jrakah, Kecamatan Selo Kabupaten Boyolali terutama anggota POKUSMA (Kelompok Usaha Masyarakat) yang menjadi binaan BMT Tumang, . Desa ini pernah ditutup tiga bulan lamanya karena dampak batuknya gunung Merapi tapi kemudian bangkit menjadi desa ternak yang handal sebagaimana saya saksikan tatkala membersamai Bapak Zainul Abidin Rasyeed (Mantan Menteri Luar Negeri Singapura) datang ke desa tersebut. Bahkan cara para penggerak melakukan asessment terhadap masyarakat binaan nya telah menjadi benchmark dari model social financing scoring yang sedang disusun oleh Perhimpunan BMT. Lihat tulisan saya, https://www.tamzis.id/artikel/24-gusti-allah-mboten-sare


Maka, kabar malam hari tadi sabtu 25 Juli oleh Pak Joelarso ketua Perhimpunan BMT Indonesia benar benar mengejutkan kami. Semua kebaikan Mas Adib tergambar dengan nyata. Diskusi - diskusi kami, diamnya beliau itu seperti sinom parijotho, sebagaimana hamparan padi di persawahan yang tampak tenang dari luar tapi begitu dinamis dan tumbuh di dalamnya dari satu bulir menjadi berlipat lipat bulir dari satu rumpun menjadi puluhan rumpun. Atau sebagaimana rumpun rumpun bambu yang kelihatan diam tapi menumbuhkan material bangunan yang kuat hanya dalam hitungan bulan (bambu sering dipakai untuk menggambarkan kesabaran BMT Tumang mengajari masyarakat menabung dimulai dari kenclengan kenclengan bambu, lihat buku filosofi sepotong bambu terbitan BMT Tumang) 

Tergambar pula tangan dingin nya yang memoles BMT Tumang, menjadikannya BMT utama diantara 10 yang terbaik di Indonesia, menyiapkan generasi kedua yang akan menumbuhkan BMT melintasi milenial. Tangan dingin nya memimpin korwil Perhimpunan BMT Jawa Tengah. Tangan dinginnya memimpin PBMT travel. 

Hari ini saya sampaikan kepada anak anak saya di rumah, Abimu bangga pernah membersamai seorang sahabat yang hebat seorang Pembawa kebahagiaan, pembangun keadaban sebagaimana namanya Adib Zuhairi. Hari ini kami lantunkan doa dan shalat ghaib untuk sahabatku tercinta. Usiamu melampaui umur mu, amal sholih mu jariyah mu. Kami menjadi saksi ya Allah. Innalillahi wa inna ilaihi rojiun. 

Kertek Wonosobo, 26 juli 2020 
Saat Suharto Amjad 
Ketua Pengurus KSPPS BMT TAMZIS BINA UTAMA 
Mantan Ketua Pengurus Perhimpunan BMT Indonesia mantan Dirut PBMT Ventura

Tidak ada komentar:

Posting Komentar